Menu

Mode Gelap

Lombok Timur · 15 Mar 2026 19:10 WITA ·

SPPG Jerogunung di Duga Monopoli Suplai


 Foto : Dapur MBG jerogunung kecamatan sakra barat Perbesar

Foto : Dapur MBG jerogunung kecamatan sakra barat

Lombok Timur – Dugaan praktik monopoli dalam penyediaan bahan baku di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) jerogunung Kecamatan sakra barat , kian menguat.

Hal itu menyusul informasi bahwa suplai bahan baku operasional dapur program makan bergizi gratis (MBG) disebut hanya dikendalikan oleh satu pihak.

Bahkan untuk kebutuhan susu saja, pihak dapur menggunakan suplayer yang diketahui merupakan mantan Anggotq DPRD lombok timur timu h Daeng paelori yang diketahui memiliki banyak dapur.

Selain susu, Buah juga di pasok oleh Yayasan dari sendiri yaitu Yayasan Dihaul fikri. Padahal, dekat dapur, banyak sekali penjual buah yang seharusnya di akomodi.

Sementara itu, Pemilik Dapur MBG Jerogunung Saeful Bahri mengaku sebagai mitra, dirinya tidak pernah terlibat dalam menentukan suplayer. Bahkan dirinya mengaku penunjukan suplayer berkat saran dari teman – teman.

“Tanya saja ke dapur siapa-siapa yang supply barang kesana, sebagian besar masyarakat sekitar sana,kalau kemudian kmudian ada yang kurang terus meteka minta tolong ke mitra menurutnya itu lumrah saja, dari pada menggangu jalannya palayanan,”katanya.

Ia juga mengatakan, terkait dengan pengelolaan dari dapur, beberapa waktu lalu pihaknya Sauful yang merupakan Anggota DPRD lombok timur ini mengaku sudah diperiksa oleh Badan pemeriksa keuangan (BPK).

” Dan kemarin kami sudah diperiksa sama BPKP alhamdulillah tidak ada masalah,”akunya.

Tekait dengan adanya koperasi yang dimiliki oleh yayasan sendiri yang menjadi Suplayer memang penah terjadi. Akan tetapi, pada saat ini sudah di stop oleh kepala SPPG.

“Awal – awal dapur buka, memang sempat pakai koperasi yayasan, tapi sekarang sudah di stop,”katanya

Ia juga mengatakanz terkait dengan suplayer ini, dirinya sudah meminta kepada kepala desa setempat untuk memasukkan produk – produk lokal. Hanya sajaz dari kepala desa mengaku masih menunggu koperasi merah putih beroperasi.

Sebelumnya, Juru Bicara BGN Dian Fatwa mengatakan setiap dapur program wajib bekerja sama dengan minimal dua pemasok bahan pangan lokal. Aturan ini diterapkan untuk mencegah praktik monopoli sekaligus menjaga keberlanjutan suplai bahan makanan bergizi bagi anak sekolah.

“Kami menemukan fakta di lapangan bahwa masih ada mitra yang hanya bergantung pada satu pemasok,” kata Dian.

Menurutnya, praktik pemasokan satu pintu berpotensi merusak ekosistem ekonomi masyarakat sekitar. Kondisi tersebut juga membuka peluang dominasi pihak tertentu yang dapat menghambat keterlibatan pelaku usaha kecil di desa.

Sebagai tindak lanjut, BGN akan mengirimkan surat peringatan kepada seluruh pengelola SPPG di NTB yang terbukti melanggar aturan. Sanksi tersebut menjadi peringatan agar pelaksanaan program berjalan transparan dan sesuai ketentuan.

“Tidak boleh ada pihak yang melakukan dominasi atau monopoli karena skema ini dirancang untuk meratakan ekonomi rakyat,” tegasnya.(01)

Artikel ini telah dibaca 122 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mengenal Fitri, Siswi MAN 1 Lotim Ikuti Seleksi Paskibraka Nasional 2026

16 Mei 2026 - 21:10 WITA

Mengenal Baiq Azellea Kinantara Halbariz, Finalis Putri Pendidikan NTB 2026

14 Mei 2026 - 19:28 WITA

Purna Tugas Bukan Akhir Pengabdian, Bupati Lotim Lantik 87 Pj Kades dan Tekankan Amanah Harus Dijaga

13 Mei 2026 - 13:45 WITA

Massa Minta Usut Kasus Chromebook dan Darmaga Labuhan Haji, TNI Halau Massa dengan Laras Panjang

12 Mei 2026 - 17:05 WITA

Putusan Hakim Terkait Chromebook Sudah Keluar, Kejari Lotim Masih Bungkam

12 Mei 2026 - 13:09 WITA

BBM Campur Air Beredar, Polres Lotim Buru Pelaku

7 Mei 2026 - 08:58 WITA

Trending di Hukum & Kriminal