Lombok Timur – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Timur, Muhamad Yusri, menyayangkan adanya dugaan kasus perundungan (bullying) yang terjadi di salah satu sekolah di Lombok Timur (Lotim) khususnya di jenjang sekolah dasar (SD).
Yusri menegaskan, praktik bullying tidak boleh terjadi di lingkungan pendidikan karena sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak dalam menempuh pendidikan.
“Kita sangat menyayangkan jika benar dugaan bullying ini terjadi. Sampai saat ini saya memang belum mendapatkan informasi yang benar-benar akurat, karena ada versi yang menyebutkan anak jatuh sendiri, dan ada juga yang mengatakan dipukul oleh temannya,” kata Yusri, saat dikonfirmasi, Kamis (5/2).
Menurutnya, kasus dugaan perundungan tersebut perlu ditangani secara serius dan menyeluruh dengan melibatkan seluruh pihak terkait. Ia mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, terutama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB), untuk segera turun ke lapangan guna memastikan kondisi yang sebenarnya.
Selain itu, Yusri juga meminta Lembaga Perlindungan Anak (LPA) agar aktif melakukan pendampingan terhadap korban dan keluarga, sehingga persoalan ini dapat diurai dengan baik dan ditemukan solusi yang tepat
“Ini harus menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depan. Semua pihak harus lebih preventif dalam mencegah kasus bullying, salah satunya dengan memperbanyak sosialisasi tentang bahaya bullying di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Yusri mengungkapkan, DPRD Lombok Timur melalui Komisi II telah melakukan diskusi internal dan sepakat untuk melakukan investigasi terhadap dugaan kasus tersebut. Komisi II juga berencana memanggil pihak sekolah, UPTD Kecamatan, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lotim untuk dimintai keterangan dalam rangka klarifikasi.
“Kita ingin menegaskan agar tidak ada sikap abai terhadap isu bullying ini. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga harus memperhatikan tumbuh kembang dan kondisi psikologis anak, termasuk lingkungan sekitar sekolah,” katanya.
Ia menambahkan, pendidik harus lebih tanggap dan responsif terhadap perubahan perilaku siswa, seperti anak yang terlihat menyendiri atau menunjukkan tanda-tanda tekanan mental. Menurutnya, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kesehatan mental, psikologis, dan karakter anak didik.
“Latar belakang dan lingkungan anak-anak kita sangat beragam dan kompleks, sehingga membutuhkan perhatian lebih,” ujar Yusri.
Senada dengan itu, Anggota Komisi II DPRD Lotim sekaligus Ketua Fraksi partai Prindo DPRD Lotim, Dr. Ust. Djamaluddin, juga menyayangkan masih terjadinya kasus bullying di sekolah, terlebih di tingkat sekolah dasar.
Ia berharap pihak sekolah dapat memberikan pendampingan, penguatan, serta bimbingan kepada siswa yang terdampak. Namun, pada saat yang sama, penanganan terhadap pelaku juga perlu dilakukan dengan pendekatan hukum restoratif, mengingat usia pelaku yang masih anak-anak.
“Tujuan kita bukan hanya memulihkan korban, tetapi juga memperbaiki perilaku pelaku dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik agar kejadian serupa tidak terus berulang,” katanya
Djamaluddin juga mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan Lombok Timur yang telah menerbitkan surat edaran terkait guru piket sebagai bentuk pengawasan di sekolah. Menurutnya, kebijakan tersebut sangat penting untuk meminimalkan potensi terjadinya perundungan.
Ia menilai, banyak kasus bullying di jenjang SD hingga SMA yang tidak selalu menimbulkan korban fisik, namun berdampak besar pada kesehatan mental anak dan berpotensi menimbulkan trauma jangka panjang.
“Dengan pengawasan guru, keterlibatan sekolah, serta peran aktif orang tua dalam menanamkan nilai agama dan adab selain ilmu pengetahuan, kasus bullying bisa ditekan,” ujarnya.(01)







