Lombok Timur -Semarak Menyambut Tahun Baru Islam di kabupaten lombok timur berlangsunh meriah, Sebanyak 1.448 buah dulang nampan besar khas suku Sasak diarak secara khidmat dari Lapangan Rinjani menuju Masjid Agung Al-Mujahidin pada hari senin (15/06).
Parade kolosal ini digelar bukan sekadar sebagai pawai seremonial, melainkan menjadi wujud syukur mendalam sekaligus ruang pelestarian tradisi yang telah lama mengakar di bumi Lombok Timur.
Angka 1.448 dulang yang diarak sore itu dipilih bukan tanpa makna. Jumlah tersebut disesuaikan secara presisi untuk menyimbolkan pergantian tahun dalam penanggalan Islam yang kini memasuki tahun 1448 Hijriah.
Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, menjelaskan bahwa festival ini merupakan agenda tahunan yang krusial untuk menjaga identitas religius dan kultural masyarakat. Demi menyukseskan gelaran yang berlangsung selama sepekan ini, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur tidak tanggung-tanggung dalam menggelontorkan dukungan finansial.
“Memang sudah agenda tahunan kita. Bahkan dianggarkan lewat APBD, sekitar 2 miliar (rupiah),” tutur Bupati yang akrab disapa H. Iron tersebut saat ditemui di sela-sela acara.
Bupati Iron menambahkan bahwa pawai taaruf ini menjadi pembuka dari rangkaian festival, dengan tujuan utama sebagai syiar sekaligus pengingat bagi masyarakat.
“Kita memberikan lambang 1448 Hijrah selaras dengan 1.448 Dulang ini, itu sebabnya jumlahnya segitu. Supaya masyarakat juga mengetahui bahwa 1 Muharam ini memang harus kita semarakkan, untuk meramaikan dan mengingatkan kepada masyarakat kita,” terangnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kekayaan budaya Sasak begitu kental terasa sepanjang rute pawai. Ribuan ibu-ibu berjalan beriringan dengan anggun, menjunjung dulang di atas kepala mereka.
Dulang-dulang tersebut berisi aneka makanan tradisional yang ditutup rapi oleh Tembolak Beak (tutup nampan yang dibuat dari daun lontar) tudung saji anyaman khas Sasak berwarna merah menyala yang melambangkan kehormatan dan kebersamaan.
Tak hanya masyarakat umum dan anggota Program Keluarga Harapan (PKH), barisan pawai juga diramaikan oleh antusiasme para pelajar hingga jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Lombok Timur.Referensi Geografis
Semangat tetep ngiring (setia mengikuti) adat leluhur ini dirasakan langsung oleh seorang warga asal Desa Pengadangan yang turut menjadi peserta pawai. Baginya, berjalan berkilo-kilometer di bawah terik senja sambil menjaga keseimbangan dulang di atas kepala adalah sebuah kehormatan, bukan beban.
“Eh capek sih, tapi saya merasa puas dan merasa bangga juga. Saya ikut karena sayang pada adat budaya leluhur kita juga,” ungkapnya engan mata berbinar.(01)







