Lombok Timur – Dugaan praktik jual beli titik lokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) beberapa hari terakhir mencuat hingga tingkat nasional. Di Lombok Timur, isu ini disebut sudah beredar sejak program diluncurkan.
Salah satu aktivis yang juga pengacara muda, Yuza, menyebut praktik jual beli titik bukan hal baru. “Kalau itu bukan isu baru, tapi sudah lama kita dengar terjadi,” katanya, Selasa 4 Juni 2026.
Yuza mengaku pertama kali mengendus dugaan praktik ini saat oknum anggota dewan dari partai A hendak membangun dapur MBG. Karena partai A tidak memiliki kuota titik, oknum tersebut mencari ke partai B yang memegang alokasi titik dapur.
Dalam prosesnya, partai B disebut tidak serta-merta menyerahkan titik. “Harus dengan mahar yang tinggi. Di sanalah terjadi nego dan transaksi jual beli titik. Jika tidak mau bayar, maka titik itu tidak akan didapatkan,” jelas Yuza.
Ia menambahkan, setelah titik diperoleh, keuntungan tidak hanya berhenti di partai B. Pada tahap pembuatan ID dan email untuk keperluan administrasi dapur, diduga kembali terjadi transaksi. “Dalam hal ini tentu akan melibatkan orang BGN itu sendiri yang berada di daerah,” ujarnya.
Yuza juga menyoroti banyaknya investor luar NTB yang terlibat dalam pembangunan dapur MBG di Lombok Timur. Menurutnya, kondisi itu mengindikasikan banyak dapur tidak dimiliki warga lokal.
“Dari jumlah dapur MBG di Lombok Timur, hampir setengah pemiliknya orang luar. Pemilik yang ada murni hanya numpang nama. Pemilik asli sembunyi,” katanya.
Sementara itu, koordinator BGN lombok timur Agamawan yang di kompirmasi media ini terkait dugaan keterlibatannya dalam dugaan jual beli titik ini hingga berita ini di turunkan belum memberikan keterangan.(01)







