Lombok Timur– Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus menggelar aksi di depan Gedung DPRD dan Kantor Bupati Lombok Timur, Senin (4/5). Mereka mendesak penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Aksi dilatarbelakangi dugaan kesenjangan kesejahteraan antara guru dan pekerja di program MBG. Ketua HMI Cabang Lombok Timur, Agamawan Salam, menyoroti rendahnya honor guru dibanding upah pekerja MBG.
“Gaji guru hanya Rp300 ribu per bulan, tapi pencuci ompreng di program MBG bisa lebih besar. Ini menandakan keadilan di Indonesia, terutama di Lombok Timur, masih jauh dari kata adil,” ujar Agamawan di sela aksi.
Menurut Agamawan, momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi refleksi perbaikan mutu dan kesejahteraan pendidik. Namun ia menilai MBG justru menggerus anggaran pendidikan.
“Kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, tapi apa yang terjadi? Pendidikan digadaikan dengan adanya MBG yang merupakan program kampanye presiden,” katanya.
Ia menambahkan, MBG dinilai tidak memberi manfaat langsung ke masyarakat luas. “Saat ini anggaran pendidikan benar-benar digerogoti oleh program MBG yang tidak ada manfaatnya untuk masyarakat. Program MBG ini hanya diperuntukkan bagi pengusaha, DPRD, dan orang-orang yang memiliki kekayaan,” tegasnya.
Atas kondisi itu, mahasiswa meminta sikap DPRD Lombok Timur. “Kami minta DPRD segera meminta presiden menghentikan program MBG yang tidak memiliki dampak ke masyarakat,” tutup Agamawan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak DPRD Lombok Timur belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan mahasiswa.(01)








