Lombok Timur– Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lombok Timur, Nurhasanah, menemukan sejumlah ketidaksesuaian dalam pengerjaan rabat jalan yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Lombok Timur. Temuan itu didapat saat sidak ke beberapa titik proyek pada Senin (13/7/2026).
Dalam sidak tersebut, Nurhasanah menyoroti dua persoalan utama: lebar rabat jalan dan elevasi yang dinilai tidak sesuai perencanaan awal dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
“Dalam perencanaan PUPR diawal lebar rabat 50 sampai 70 cm. Namun hasil pengecekan di lapangan hanya 50 cm sampai 55 cm di sisi kiri dan kanan. Itu di berarti di luar rencana PUPR. Perencanaan lain, pengerjaan lain,”ujar Nurhasanah.
Selain lebar, elevasi badan jalan hasil rabat juga lebih tinggi dibanding sisi jalan yang belum diperbaiki. Kondisi itu dinilai mempersulit pengendara, khususnya kendaraan besar, saat berpapasan.
“Dengan kondisi sekarang, badan jalan yang bisa dimanfaatkan masyarakat justru terlihat lebih kecil. Posisi rabat yang lebih tinggi berisiko menimbulkan kecelakaan,” katanya.
Akibat perbedaan ketinggian itu, bahu jalan di sisi kiri dan kanan tidak dapat digunakan maksimal. Sejumlah pengendara dump truck dengan muatan penuh mengaku kesulitan dan harus bergantian saat melintas.
“Dulu kalau mau minggir enak karena rata. Sekarang tidak berani turun karena lebih tinggi. Jadi tidak bisa dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat karena pekerjaannya belum maksimal,” jelasnya.
Politisi Partai NasDem itu meminta Dinas PUPR segera mengondisikan sisa badan jalan di kiri dan kanan agar ketinggiannya sama dengan rabat. Dengan begitu seluruh badan jalan bisa dimanfaatkan masyarakat.
“Tolong dikondisikan secara teknis bagaimana caranya agar rabat ini bisa dimanfaatkan. Bahu jalan kiri kanan harus bisa digunakan masyarakat,” tegasnya.
Selain luas rabat yang kecil, Dalam sidak yang dilakukan secara sporadis itu, Nurhasanah juga menyoroti adanya ruas jalan dengan kondisi rusak berat yang tidak masuk dalam daftar perbaikan kali ini.
“Ini kan dikerjakan spot-spot tertentu. Kadang ada jalan yang kondisinya sangat layak direhab, tapi justru dilompati,” ujarnya.
Salah satu contohnya ruas jalan di Batu Ngoek, tepat di depan masjid dan merupakan jalur yang cukup padat. Begitu juga ruas Rensing-Pijot yang menurutnya merupakan salah satu jalur tersibuk di wilayah tersebut.
“Apalagi di depannya ada fasilitas umum berupa masjid. Ruas Rensing-Pijot itu lalu lintasnya luar biasa ramai. Beberapa menit saja kita di sana, kendaraan lalu lalang terus,” katanya.
Nurhasanah menegaskan, tujuan perbaikan jalan adalah agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat, bukan menimbulkan masalah baru.
“Intinya supaya jalan yang kita bangun sekarang bisa dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat. Jangan kesannya setengah-setengah. Ini sudah solusi, tapi jangan sampai menimbulkan masalah baru di kemudian hari,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Lombok Timur saat dikonfirmasi belum memberikan tanggapan terkait temuan dan saran dari DPRD tersebut.(01)







