Andra Ashadi – Di ufuk timur, ketika matahari menyentuh cakrawala laut dengan cahaya yang lembut seperti pelukan ibu yang lama ditinggalkan, Teluk Ekas membuka dirinya seperti lembaran kitab lontar yang menyimpan hikmah dalam ombaknya. Di sanalah, air berwarna zamrud membelai pasir putih dan karang-karang bisu. Di sanalah, angin membawa bisikan leluhur, menyapa pohon-pohon lontar yang menua bersama waktu.
Teluk Ekas bukan sekadar tempat, ia adalah rahim alam yang melahirkan mimpi dan kesunyian, rumah bagi rindu dan harap. Ombaknya bukan sekadar gulungan air, tapi nyanyian sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh jiwa-jiwa yang mencintai bumi tempat mereka berpijak.
Namun kini, ombak itu merasa asing. Ia masih bergulung indah, masih menyambut papan-papan selancar yang menari di punggungnya, tapi di antara hempasan dan angin, ia merasa tidak dikenali. Para peselancar dari seberang lautan datang dan pergi, menaiki perahu, menyeberang langsung dari tengah laut, tanpa menjejakkan kaki pada pasir yang dirawat oleh tangan-tangan warga lokal. Mereka tidak singgah, tidak menyapa, tidak membeli setangkup nasi, tidak bertanya tentang arah mata angin kepada pemandu setempat yang sudah bertahun-tahun menunggu.
Dan para warga… mereka tetap di sana, duduk di berugak, melihat ombak yang membawa rezeki justru mengalir hanya ke semeton sebelah. Mereka yang selama ini menjaga, mencintai, dan mendoakan pantai agar tetap bersih, hanya bisa menyaksikan dari kejauhan: tamu-tamu datang tanpa salam, dan pergi tanpa pamit.
**
Pada suatu pagi, di bawah langit teluk ekas yang cerah, berbanding terbalik dengan hati yang gerimis, terdengarlah suara seorang paruh baya. Suaranya keras, bernada tinggi, tapi bukan karena benci, melainkan karena cinta yang sudah terlalu lama dipendam. Ia adalah Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin. Ia bukan sekadar pemimpin administratif. Dalam suaranya, ada luka seorang kakak yang adik-adiknya tidak dianggap oleh tamu-tamu yang datang ke rumahnya.
“Aik tanak pelungguh sami,, sanaq senamean pade terus-terusan menonton. Dek kanggo teterusan! Silaq idupan jalur resmi, biar semua bisa hidup, semua bisa dapat berkah dari ombak Teluk Ekas!” ujar bupati iron sebelum naik perahu melihat fakta lapangan.
Namun potongan vidio yang lain direkam, disebar, dan menjadi viral. Banyak yang menilainya kasar. Tapi siapa yang mengerti air mata yang tak tumpah?
**
Amaq Juki, pemandu selancar lokal, duduk termenung di atas batu karang. Kakinya yang kasar dan hitam oleh matahari menggambarkan tahun-tahun panjang menjaga garis pantai. Ia ingat saat pertama kali belajar membaca ombak, saat menyambut bule pertama yang datang ke Ekas, saat hanya ada satu warung dan dua papan selancar bekas. Tapi kini, semuanya telah berubah, kecuali satu: mereka masih tidak mendapatkan apa-apa dari keramaian itu.
“Ampure, Pak Bupati,” bisik Amaq Juki pelan saat melihat video itu. “Tapi kami paham. Ini bukan soal marah. Ini soal kita semua tak lagi dihargai.”
**
Ketika sore datang dan cahaya jingga menari di permukaan laut, beberapa warga berkumpul. Mereka tidak membahas viralnya video, tidak juga mencaci maki tamu-tamu yang datang dengan perahu cepat. Mereka membahas bagaimana menghidupkan jalur resmi. Bagaimana menata ulang pintu masuk, bagaimana menyusun sistem agar tamu luar tetap bisa menikmati keindahan Ekas, tapi warga juga dapat merasakan manisnya hasil pariwisata.
Karena seperti yang diucapkan Pak Bupati: “Kebaikan harus dibagi. Rezeki harus dinikmati bersama.”
**
Dan malam pun turun di Teluk Ekas. Bintang-bintang berkedip di langit, seolah tersenyum menyaksikan satu lagi babak kebangkitan dimulai. Pantai tetap indah, ombak tetap menari, tapi kini ada harapan baru. Harapan bahwa suara keras itu akan membuka jalan, bukan menutupnya. Bahwa di balik kata-kata lantang, ada niat baik yang tulus, agar anak-anak Amaq Juki bisa membeli sepatu baru, agar warung Inaq Minah bisa menjual lebih banyak kopi, agar Teluk Ekas tidak hanya indah untuk ditonton, tapi juga adil untuk ditinggali.
Karena teluk ini milik semua, bukan hanya semeton sebelah, tapi juga mereka yang selama ini berdiri paling dekat pada keindahan itu, namun paling jauh dari manfaatnya.
Angin masih menyapu Teluk Ekas malam ini. Tapi kini ia membawa harapan, karna di balik peristiwa ada hikmah.(*)







