Lombok Timur – Hampir 30 persen petani di wilayah selatan kabupaten Lombok Timur sudah melakukan panen raya. Dari jumlah ini, sejumlah petani mengaku mengeluh akibat kesulitan menjual gabahnya ke Bulog.
Melihat kondisi ini, Jurnalis Media ini melakukan penelusuran ke sejumlah petani yang sudah melakukan panen. Dari pengakuan petani ini, didapatkan sejumlah keluhan mulai dari sulitnya menjual hasil panen, kemudian harga yang ditawarkan oleh tengkulak dan tidak adanya buruh yang akan melakukan panen raya.
Salah satu petani asal wilayah kecamatan Sakra Barat Irwandi mengaku ingin menjual gabahnya sebanyak 3 ton. Untuk menjual ini, dirinya kemudian menghubungi Babinsa agar bisa dibantu untuk menjual gabah ke Bulog.
“Sudah saya hubungi pak Babinsa, dari Babinsa jawabannya oknum mitra yang dihubungi gudangnya penuh,”ujarnya.
Setelah mendengar jawaban dari Babinsa sambungnya, kemudian datang seorang tengkulak yang ingin membeli gabahnya dengan harga Rp 6200. Padahal standar dari pemerintah gabah ini seharga Rp 6500.
“Kalau tengkulak yang hubungi mitra, kenapa gudangnya tidak penuh, padahal kalau dihubungi sama Babinsa mitra mengaku gudang penuh,”kesalnya.
Jika melihat dari kerasnya para tengkulak ini, oknum mitra – mitra yang ada saat ini ada melakukan permainan dengan tengkulak, dengan mengambil gabah pada petani dengan harga yang murah, kemudian dijual ke Bulog dengan harga Rp 6400.
“Tengkulak ini membeli dengan harga Rp6200, kemudian di jual ke oknum mitra sebesar Rp 6400, jadi ada selisih Rp 1000 yang didapatkan tengkulak dan mitra,”ujarnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh sejumlah babinsa, menurutnya mitra – mitra yang minta dihubungi oleh Bulog pasti mengaku gudangnya sudah penuh. Sementara yang bisa diserap oleh mitra perhari di masing – kecamatan paling banyak 20 ton.
“Sementara laporan dari mitra ke Bulog ini pasti diatas itu, bahkan sampai 100 ton perhari. Pertanyaan kita, dari mana mitra ini mengambil gabah, sementara kita dilapangan ini petani hanya mampu menjual 20 ton perhari untuk perkecamatan,”geram Babinsa.
Ia mengatakan, jika mitra yang dihubungi oleh teman Babinsa di lapangan semuanya mengambil gabah petani sesuai dengan perjanjian, maka menurutnya, dari satu desa saja, Bulog bisa mengambil gabah petani 50 sampai 100 ton perhari. Hanya saja, faktanya, mitra yang dihubungi mengaku gudang penuh
“Ada yang bilang gabah di gudang sudah tumbuh, ada yang bilang penuh dan berbagai alasan lainnya,”akunya.
Sementara itu, Pimpinan Cabang Bulog Lombok Timur Supermansyah mengaku memang pernah mendengar keluhan seperti itu, tetapi setelah ditelusuri, keluhan itu tidak ada.
“Memang ada beberapa mitra yang kita punya gudangnya sudah penuh, dan ada juga yang belum,”ujarnya saat di hubungi media ini Rabu (09/04).
Ia mengatakan, jumlah mitra yang dimiliki Bulog saat ini sebanyak 26 Mitra, dari jumlah mitra ini, dirinya membantah kalau semua gudang mitra yang ada penuh. Untuk itu, para Babinsa diminta menghungi Tim Bulog yang ada untuk dilakukan komunikasi dan diarahkan ke mitra mana yang akan mengambil.
“Silahkan hubungi tim yang kita punya, nanti oleh tim akan ditunjukan kemana, bisa ke mitra yang ada di Lombok Timur, mitra yang di Lombok tengah, karena mitra kita sampai ke Lombok Utara,”paparnya.(01)







